HIPMI Gandeng Pakar Marketing asal Belanda Latih Pelaku UMKM di Pangandaran

HIPMI Pangandaran gandeng pakar marketing asal Belanda latih pelaku UMKM. dede/ruber.id

BERITA PANGANDARAN.ruber.id – BPC HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menggandeng pakar marketing asal Belanda untuk melatih para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM di daerahnya.

Pelatihan UMKM yang bertajuk HIPMI Next Level Pangandaran ini dilakukan oleh lembaga Programma Uitzending Managers (PUM) Netherland Senior Experts yang telah berlangsung selama 6 hari di Kedai Litera.

Adapun para pelaku UMKM yang dilatih itu adalah mereka yang memiliki usaha makanan, konveksi, produk pertanian, kain batik hingga kopi. Mereka telah dilatih secara face to face keliling ke setiap tempat produksi UMKM. Dan materi yang diberikan terkait marketing, pemasaran hingga branding.

Baca juga:  Satpol PP Pangandaran Layangkan SP2 ke Pengusaha Galian C Ilegal yang Masih Beroperasi

Pakar Marketing asal Belanda Leendert Noordermeer mengatakan, PUM merupakan organisasi nirlaba yang telah beroperasi lebih dari 45 tahun dan didukung oleh pemerintah Belanda.

Menurutnya, PUM sebuah organisasi yang mentransfer ilmu manajemen. PUM juga merupakan suatu wadah untuk para relawan dan konsultan senior yang telah bekerja di berbagai bidang dan berlevel cukup berkelas.

“Para anggota PUM ini mewadahi mereka yang memiliki banyak keahlian. Mereka disalurkan ke negara-negara berkembang. Di PUM ini juga banyak para ahli-ahli di bidang yang lainnya,” kata Leendert, Selasa 6 Februari 2024.

Pakar asal Belanda Menilai Pelaku UMKM di Pangandaran Perlu Tingkatkan Bisnis Usahanya

Setelah memberikan materi dan melatih pelaku UMKM di Pangandaran selama 5 hari, Leendert menilai, bahwa pelaku usaha di daerah selatan Jawa Barat ini masih harus berusaha untuk meningkatkan bisnis usahanya.

Baca juga:  Galian C Ilegal di Pangandaran Masih Beroperasi, Satpol PP: Ada yang Tak Kooperatif

“Untuk benar-benar mengetahui pasar, mereka harus sesering mungkin melakukan penelitian. Tujuannya untuk mengetahui siapa pelanggannya, bagaimana kondisi pasar, persaingannya seperti apa dan produk dari pesaingnya seperti apa,” ujarnya.

Leendert menuturkan, para pelaku UMKM Pangandaran harus lebih mengetahui kondisi pasarnya. Terlebih, Pangandaran memiliki potensi yang cukup besar di dunia pariwisata. Meski demikian, masih banyak yang perlu ditingkatkan.

“Contoh yang paling simpel itu pinggiran pantai yang harus lebih dimanage. Karena masih lumayan berantakan. Pangandaran tidak boleh hanya terfokus terhadap tourism saja.”

“Tapi perlu melihat warga Indonesia sendiri yang jumlahnya sekitar 250 juta penduduk. Karena hal itu tentunya bisa menjadi potensi market. Kita harus berpikir luas karena Pangandaran memiliki potensi yang cukup besar untuk pasar kita sendiri,” tuturnya.

Baca juga:  28 Juli Mendatang, 17 Desa di Pangandaran akan Gelar Pilkades

Di tempat yang sama, Ketua BPC HIPMI Pangandaran Shenna Rizkantya menambahkan, untuk memajukan dunia pariwisata pihaknya akan mendatangkan kembali para ahli. Terlebih, UMKM dan pariwisata itu saling berkaitan.

“Kami nanti akan mengusulkan dan merancang program-program untuk ke depannya mendatangkan ahli di bidang pariwisata,” tambahnya.