9 Tahun Terisolasi, Warga Pangandaran Ini Kini Bisa Nikmati Jembatan Penghubung antar Wilayah

Ketua DPRD Pangandaran Asep Noordin hadiri peresmian jembatan di Dusun Pamuntuan, Desa Kersaratu, Kecamatan Sidamulih. ist

BERITA PANGANDARAN.ruber.id – Hampir 9 tahun terisolasi lantaran tidak ada akses transportasi, kini warga Dusun Pamuntuan, Desa Kersaratu, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ini bisa menikmati jembatan penghubung antar wilayah.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Pangandaran Asep Noordin mengatakan, Jembatan Pamuntuan ini merupakan jembatan yang menghubungkan dua perkampungan dan akses tersebut sebelumnya mengalami kendala.

“Jembatan ini diresmikan langsung oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata pads 2 Maret lalu. Sekarang warga setempat sudah gembira, karena akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan pendidikan,” kata Asep, Kamis 30 Maret 2023.

Asep menuturkan, jembatan tersebut sebetulnya berada di perkampungan, sehingga ada di Pemerintahan Desa (Pemdes) setempat pembangunannya. Namun Pemkab Pangandaran membantu untuk membangun jembatan itu.

Baca juga:  Kepala BKPSDM Pangandaran Dinonaktifkan Buntut Dugaan Pungli Guru ASN

“Lokasinya ada di jalan perkampungan. Tapi Pemkab membantu untuk membangun jembatan itu. Supaya pendidikan dan perekonomian warga di Dusun Pamuntuan ini bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Terlebih, ke depan pemerintah daerah juga akan membantu untuk membangun jalan di wilayah tersebut. Sekitar beberapa ratus meter dari akses menuju Jembatan Pamuntuan itu.

“Jembatan ini merupakan penghubung antara pemukiman dengan wilayah perhutanan dan perkebunan. Semoga dengan adanya akses ini perekonomian warga setempat terutama di bidang pertanian bisa meningkat,” ujarnya.

Asep menerangkan, di Dusun Pamuntuan terdapat dua perkampungan yang hampir 9 tahun terisolasi karena adanya aliran sungai. Ada 5 RT (rukun tetangga) dengan jumlah 30 Kartu Keluarga (KK). Warga kerap mengalami kendala jika musim penghujan, karena air sungai meluap.

Baca juga:  Mengenang Tragedi Mei 98 Tonggak Awal Tumbangnya Orde Baru

“Warga di dusun itu, khususnya anak-anak terpaksa suka meliburkan diri tidak berangkat ke sekolah kalau air sungai sedang meluap. Karena tidak bisa dilewati. Aktivitas warga juga terganggu, jadi lebih memilih berdiam diri di rumahnya samapai air sungai surut,” terangnya.