Disdikpora Pangandaran Minta Guru SMP Negeri 1 Mangunjaya Bimbing Siswa Tak Bisa Baca Tulis

Kepala Disdikpora Pangandaran Agus Nurdin.

BERITA PANGANDARAN.ruber.id – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Pangandaran meminta guru SMP Negeri 1 Mangunjaya membimbing siswa yang belum bisa membaca dan menulis.

Jumat 4 Agustus 2023, Kepala Disdikpora Pangandaran Agus Nurdin melakukan pengecekan ke SMP Negeri 1 Mangunjaya untuk mencari tahu soal puluhan siswa yang tak bisa membaca dan menulis itu.

Agus mengatakan, berdasarkan informasi yang ia terima, ada 36 siswa di sekolah tersebut yang tidak bisa membaca dan menulis. Pihaknya langsung memberikan arahan kepada guru untuk menangani para siswa-siswa itu.

“Kita tidak harus malu memiliki anak yang masih belum bisa membaca atau menulis. Siapa tahu mereka ini memiliki potensi atau bakat lain. Sudah saya berikan arahan guru-guru untuk menangani soal ini,” kata Agus.

Baca juga:  Tahun 2023, Universitas Jenderal Soedirman Hadir di Pangandaran

Pihaknya juga meminta para guru agar memberikan tambahan perhatian, pelajaran kepada para siswa-siswa tersebut. Karena kemampuan setiap siswa itu berbeda.

Kendati demikian, kata Agus, pihaknya belum mengetahui kondisi siswa di sekolah lain terjadi hal yang sama. Meski terjadi pun hal tersebut tak menjadi masalah. Karena pihaknya akan mendorong dan melakukan evaluasi peningkatkan kemampuan anak.

Sementara itu, Kepala Sekolah (Kepsek) SMP Negeri 1 Mangunjaya Adi Sumarna mengaku, ada puluhan siswanya tidak bisa membaca dan menulis. Kendati begitu, pihaknya inisiatif terus mendorong dan memberikan yang terbaik terhadap siswa itu.

“Kami sudah memberikan arahan, ada beberapa guru yang disiapkan untuk membantu anak tersebut, khususnya yang tidak bisa membaca. Kami juga tidak menyalahkan karena adanya pandemi Covid-19, karena perlu ada analisis,” kata Adi.

Baca juga:  Klinik Bedah di RSUD Pandega Pangandaran Dilengkapi Tiga Dokter Spesialis

Sebelumnya, seorang guru di Pangandaran dibuat kaget karena puluhan siswa yang diajarinya tidak bisa membaca dan menulis. Padahal puluhan siswa tersebut diketahui sudah duduk di bangku SMP.