Asal Usul Tari Ronggeng Gunung, Maha Karya Putri Cantik Kerajaan Galuh

Asal Usul Tari Ronggeng Gunung, Maha Karya Putri Cantik Kerajaan Galuh
Foto dokumen R001/ruber.id

BERITA PANGANDARAN.ruber.id – Ronggeng Gunung merupakan salah satu kesenian tari tradisional asal Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Saat ini, Tari Ronggeng Gunung masih jadi perdebatan terkait hak asal-asulnya antara Pemkab Pangandaran dengan Pemkab Ciamis.

Asal Usul Tari Ronggeng Gunung

Dari informasi yang ruber.id himpun, Tari Ronggeng Gunung diciptakan oleh Dewi Samboja pada abad ke-7.

Dewi Samboja merupakan salah seorang putri di masa Kejayaan Kerajaan Galuh, di bawah kekuasaan Putra Raja Haur Kuning, bernama Anggalarang.

Beberapa sumber mengatakan, Anggalarang mendirikan kerajaan kecil yang letaknya di wilayah pesisir Pantai Pangandaran. Tepatnya, di Gua Sungai Rengganis, Pantai Timur Pangandaran.

Menurut salah seorang tokoh kesenian asal Pangandaran, Didin Jentreng, dalam sejarahnya, Anggalarang menikahi Nyimas Dewi Samboja atau tak lain adalah Dewi Rengganis.

Karena kecantikannya, bajak laut atau perompak laut, yang di masa lalu disebut bajo di sekitar Pantai Pangandaran, merasa iri kepada Anggalarang.

Hingga akhirnya, bajo menculik Anggalarang dan membunuhnya di daerah Bagolo. Tepatnya, di Desa Emplak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.

Setelah Dewi Rengganis mengetahui Anggalarang dibunuh oleh bajo. Ia berniat untuk membalas dendam, dengan membentuk pasukan di bawah pimpinan Raja Sawung Galih.

Baca juga:  Jejak Manusia Purba di Pangandaran

Pasukan tersebut, bertugas untuk melakukan penyamaran melalui gerakan tari, dengan iringan lirik lagu liring. Sehingga, disebutlah Tari Ronggeng Gunung.

Dalam adegan tarian ini, terdapat ciri khas yang sampai saat ini masih melekat. Salah satunya, peserta yang hendak mengikuti tarian wajib menggunakan sarung yang diselendangkan ke kepala peserta tari.

Para bajo, akhirnya terpukau dengan gerakkan tari tersebut. Maka, Dewi Rengganis melakukan pembalasan pembunuhan.

Dalam sejarah tersebut juga diceritakan bahwa, pasukan Raja Sawung Galih, melakukan pementasan keliling dari satu daerah ke daerah lain. Guna, menuntaskan dendam Dewi Rengganis.

Tari Ronggeng Gunung Diklaim 2 Kabupaten

Pasca-Kabupaten Pangandaran lepas dari Kabupaten Ciamis dan menjadi daerah otonomi baru (DOB), Tari Ronggeng Gunung diklaim merupakan salah satu aset kesenian Kabupaten Ciamis.

Begitu pula, Kabupaten Pangandaran bersikukuh menyatakan kesenian tradisional ini merupakan salah satu aset Pemkab Pangandaran.

Hingga saat ini, klaim kepemilikan seni Tari Ronggeng Gunung ini belum menemui titik temu.

Pemkab Pangandaran sendiri, tetap bersikukuh akan mengambil alih hak paten seni tradisi yang menjadi warisan budaya Kabupaten Pangandaran ini.

Alasannya, dilatarbelakangi sejarah lahirnya seni tari tradisi ini. Karena memanh, fakta dan sejarahnya jelas yakni pertama kali dilakukan di wilayah Pantai Timur Pangandaran.

Baca juga:  Bawaslu Pangandaran Temukan WNA dan Pemilih 'Siluman' Hampir Masuk DPT

Tarian ini, merupakan bagian dari sejarah perjalanan masyarakat Kabupaten Pangandaran.

Ketika wilayah Pangandaran belum menjadi Daerah Otonomi Baru, tidak salah apabila seni tari tradisi ini disebut sebagai seni budaya Kabupaten Ciamis.

Tetapi saat ini, Kabupaten Pangandaran sudah berpisah dari Kabupaten Ciamis, dan otomatis kondisi itu pun berubah.

Perjalanan Tari Ronggeng Gunung dari Masa ke Masa

Minat warga pada seni tari tradisi ini terus mengalami penurunan. Hal ini terjadi, karena tergerus oleh perkembangan zaman dan teknologi.

Padahal, Ronggeng Gunung dari masa ke masa mengalami perubahan makna.

Salah seorang seni ronggeng gunung asal Pangandaran menyatakan, jika sejarah lahirnya gerak tari ini berasal dari balas dendam Dewi Rengganis kepada para bajo.

Namun dalam perkembangannya, bergeser menjadi salah satu kesenian tradisional yang wajib dipentaskan. Terutama, setelah perayaan panen sawah oleh warga Kabupaten Ciamis.

Pada tahun 1970-1980, kesenian Tari Ronggeng Gunung menjadi salah satu sajian acara ungkapan syukur masyarakat pegunungan Ciamis. Karena hasil panen yang melimpah.

Seni tari tradisi ini, sangat berbeda dengan jenis tarian Sunda lainnya, yang cenederung mengolah gerakkan kepala, tangan, dan badan.

Tarian ini, lebih bertumpu pada gerakkan kaki yang harus seirama, bergerak melingkari Nyi Ronggeng, sebagai porosnya, dengan pola langkah tertentu.

Baca juga:  Tiga Jabatan Kadis Kosong, Pemkab Pangandaran Lakukan Open Bidding

Sedangkan, gerakan tangan atau tubuh lainnya cenderung bebas.

Ronggeng Gunung, dalam penyajiannya juga dibedakan menjadi dua fungsi. Yakni, sebagai kesenian untuk hiburan atau adat dan sebagai kesenian pada upacara adat dengan pakem tertentu.

Dalam pakem tersebut, acara adat harus sesuai dengan urutan lagu yang sudah diatur dari karuhun sebelumnya

Sengan demikian, Ronggeng Gunung tidak mudah untuk mempelajarinya. Karena, selain ada pakem tertentu juga kesiapan fisik harus maksimal.

Pelaku atau penari Ronggeng Gunung juga harus memiliki fisik yang kuat.

Karena, para penari dituntut memiliki kemampuan olah vokal dalam nada tinggi, sekaligus menari dalam waktu yang lama.

Sebab, dalam satu kali pementasan, akan berlangsung 2 hingga 12 jam.

Dalam satu pertunjukkan, biasanya ada enam hingga delapan lagu yang dibawakan.

Antara lain, lagu kudup turi, lagu sisigaran golewang, lagu raja pulang, lagu onday, lagu kawungan, lagu parut.

Kemudian, lagu trondol yang kesemua lagu itu merupakan tema kerinduan terhadap kekasih dan sindiran kepada perompak yang membunuh Anggalarang.