Ledakan di Bintang Mirip Matahari Jadi Peringatan Bagi Bumi

ledakan bintang
Ilustrasi ledakan bintang. nasa/goddard space flight via live science

BERITA SAINS, ruber.id – Bintang berjarak 100 tahun cahaya dari Bumi mengeluarkan ledakan dahsyat yang tak pernah ditemukan sebelumnya. Astronom mengatakan, ledakan ini bisa jadi tanda peringatan bagi Bumi.

Bintang bernama EK Draconis itu berada di konstelasi Draco dan memiliki massa yang mirip seperti matahari.

Namun usia EK Draconis masih sangat muda, yaitu sekitar 100 juta tahun, dibandingkan dengan matahari yang berusia 4,6 miliar tahun.

Seperti diketahui, matahari sering melontarkan plasma yang disebut sebagai suar matahari. Suar itu ukurannya bisa kecil, tapi kadang lontaran energi ini bisa jauh lebih besar.

Suar matahari juga bisa meluncurkan plasma super panas ke luar angkasa yang disebut sebagai lontaran massa koronal (coronal mass ejection/CME).

Baca juga:  Siswa MI Tewas Tertabrak Mobil Pickup di Tunggilis Pangandaran

EK Draconis diketahui baru saja mengeluarkan plasma dalam ledakan dahsyat yang 10 kali lebih besar dari yang pernah dilihat di bintang mirip matahari sebelumnya.

Ahli astrofisika di University of Colorado Boulder, Yuta Notsu mengaku temuan ini membantu dirinya untuk meningkatkan pemahamannya.

Tentang bagaimana lontaran massa koronal terjadi dalam sejarah bintang seukuran matahari. Sedangkan matahari sudah berusia 4,6 miliar tahun.

“Meski CME super besar seperti ini lebih sering terjadi di usia muda, event ini bisa menjadi proxy untuk kemungkinan CME super terkait dengan suar super yang mungkin terjadi di matahari sekali dalam ratusan atau ribuan tahun,” kata Yuta Notsu, seperti dikutip dari Gizmodo, Minggu (12/12/2021).

Baca juga:  Unpad Pangandaran Gelar Simulasi Mitigasi Bencana Alam

CME Bisa Merusak Satelit dan Pembangkit Listrik

Laporan yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy ini mengindikasikan ledakan dengan kekuatan serupa bisa saja terjadi di matahari.

Padahal, suar matahari berukuran kecil saja bisa menimbulkan dampak yang cukup besar jika mengarah ke Bumi, seperti mengganggu alat elektronik dan orbit satelit.

CME yang berukuran signifikan bisa merusak satelit dan merusak pembangkit listrik.

Seperti CME yang terjadi pada tahun 1989, yang mengakibatkan pemadaman listrik di Quebec, Kanada. Dan hampir menumbangkan pembangkit listrik di Amerika Serikat.

Ilmuwan mengamati EK Draconis pada tahun 2020 selama 32 hari menggunakan teleskop TESS milik NASA dan teleskop SEMEI milik Kyoto University.

Baca juga:  Bupati Jeje Geram Atas Ulah ASN Guru di Pangandaran yang Jual Aset Sekolah Untuk Judi Online

Suatu malam, mereka melihat bintang ini mengeluarkan suar besar yang diikuti dengan tahap awal CME.

Tahap itu, yang disebut sebagai ledakan filamen, membuat plasma dari EK Draconis melesat dengan kecepatan 1,8 juta km/jam.

Notsu menyebutkan, sejauh ini timnya hanya mengamati tahap awal CME. Dan untuk melihat tahap selanjutnya, mereka harus mengamati EK Draconis dengan menggunakan teleskop ultraviolet dan sinar-X.

“Suar super dari matahari terbilang jarang karena bintang yang usianya lebih tua biasanya lebih tenang,” sebutnya.

Namun, dirinya mengingatkan data menunjukkan bahwa matahari pernah melontarkan suar super ke Bumi beberapa kali dalam 10.000 tahun terakhir.

Editor: R002